Ada kesedihan mengikuti debat kandidat ketua PPI-UK setahun ke depan. Sebagai bursa pimpinan sebuah perhimpunan pelajar berbasis keIndonesiaan yang cukup prestisius, saya berharap bakal disuguhi pertarungan gagasan yang sengit dan berbobot, yang keseluruhannya mencerminkan hasil pembacaan yang utuh, kritis dan progresif terhadap persoalan-persoalan krusial keIndonesiaan.
Tapi apa gerangan yang disuguhkan? Pertama, di tangan Kandidat Pertama, isu-isu krusial tertenggelamkan oleh isu-isu kekerabatan, hiburan dan lain-lain bumbu pelengkap organisasi. Dalam kemasan visi “kekerabatan”, seolah ada justifikasi untuk menjadikan kegiatan “nonton bareng”, rekreasi, kunjungan wisata dan aneka kegiatan “bersenang-senang sambil berkontribusi kecil-kecilan” sebagai prioritas yang perlu di sebutkan berulang-ulang. Saya tidak memungkiri bahwa kekerabatan adalah fondasi penting sebuah organisasi. Tapi apakah krisis kekerabatan kita sudah sedemikian gawat sehingga harus diprioritaskan dalam berulangnya penyebutan kendati kita tahu bahwa itu beresiko mengurangi perhatian dari isu lain yang lebih signifikan? Tidakkah membangkitkan sebuah perlawanan terhadap nepotisme, misalnya, tidak lebih penting dari membangkitkan isu kekerabatan?
Saya percaya “Perhimpunan Pelajar Indonesia” bukan Paguyuban Keluarga Martodikromo atau Perkumpulan Putra Jawa Kelahiran Sumatra, yang memiliki lebih banyak alasan untuk menempatkan isu kekerabatan sebagai visi dan menjadikan kegiatan bersenang-senang sebagai prioritas misi perkumpulan. Anda mungkin berargumentasi bahwa di tengah merosotnya partisipasi, membuat kegiatan yang menyenangkan akan memancing lebih banyak partisipasi. Jika itu benar, maka yang terjadi sungguh sebuah penghinaan karena menyamakan Perhimpunan Pelajar Indonesia dengan sekumpulan anak TK yang membutuhkan hiburan dan permen pemanis sebagai daya tarik sebuah keikutsertaan. Saya percaya, sebuah organisasi kehilangan daya tarik karena dia kehilangan segenap alasan pembenar yang diperlukan untuk menjadikan kita, mahasiswa yang didera kesibukan, rela meluangkan waktunya yang sempit untuk kegiatan-kegiatannya. Dalam kaitan itu, di mana kita bisa menemukan alasan meyakinkan bahwa prioritas pada kegiatan bersenang-senang dan kontribusi kecil-kecilan akan meningkatkan daya tarik dan mutu organisasi? Pergilah ke PPI-London sekedar memeriksa betapa “menyenangkan”nya kegiatan mereka setahun yang lalu. Tapi apakah tingkat partisipasi mereka meningkat? Mereka bahkan tidak berhasil mencapai kuorum dalam mubes yang barusan. Lagi pula, saya percaya bahwa Perhimpunan Pelajar Indonesia bukan sebuah organisasi hobi, karang taruna atau paguyuban panti jompo yang memiliki lebih banyak alasan untuk bergantung pada daya tarik kesenangan dan menghibur-tidaknya sebuah kegiatan untuk membuatnya berfungsi optimal.
Kedua, di tangan Kandidat Kedua, meski sedikit terbungkus dalam bahasa ilmiah dan madani yang melenakan, yang disuguhkan sesungguhnya tak lebih dari berulangnya kejumudan cara pandang dalam memahami visi dan misi PPI sebatas definisi isu-isu internal kemahasiswaan yang egois, eksibisi kepanitiaan dan kerangkeng sempit definisi responsibilitas sosial perhimpunan dalam kegiatan-kegiatan berorientasi karitas yang seringkali temporer dan meragukan dari segi sustainabilitas. Dengan berbendera visi Perhimpunan Pelajar Indonesia sebagai masyarakat ilmiah yang bertanggung jawab, misalnya, kita disuguhi program-program penguatan jaringan, peningkatan wawasan penalaran, silaturahmi, hingga program one-pound charity. Saya tidak menutup mata terhadap arti penting penguatan jaringan, peningkatan wawasan dan silaturahmi bagi sebuah organisasi. Tapi bukankah itu masalah rutin yang menuntut siapapun bila memimpin sebuah organisasi? Apalagi dalam latar belakang perhimpunan berbasis kemahasiswaan, upaya itu bukanlah sebuah distingsi melainkan sebuah keharusan. Lagi pula, saya percaya bahwa kita berbeda dengan OSIS anak SMP-SMA yang notabene punya program rutin serupa. Lalu di mana kami bisa melihat bahwa PPI nantinya bakal keluar dari kecimpung egoisme persoalan internal kemahasiswaan, eksibisi kepanitiaan dan memberikan sumbangan sosialnya yang signifikan dan otentik sebagai sebuah Perhimpunan Pelajar Indonesia? Apakah dengan one-pound charity itu? Seandainya toh seluruh orang Indonesia di UK ini memberikan satu pound-nya toh itu bukan sebuah signifikansi. Bukan karena jumlahnya yang kecil tapi karena sifatnya yang karitas, temporer dan tidak sustainable. Lagi pula, saya percaya kita berbeda dengan Rotary Club, Lions Foundation atau Yayasan Anak Yatim Indonesia yang memiliki segenap alasan untuk menjadikan program karitas ke dalam definisi responsibilitas sosialnya yang utama. Berbeda dengan mereka, PPI adalah Perhimpunan Pelajar Indonesia dengan misi dan visi kesejarahan yang khas dan berbeda.
Yang ingin saya katakan sesungguhnya bukannya menganggap bahwa bahwa program hiburan, eksibisi kepanitaan dan program-program karitas itu sebagai sesuatu yang tidak perlu, melainkan mengingatkan bahwa sebuah restrukturisasi prioritas dibutuhkan agar kita tidak terjebak pada penilaian yang berlebihan atas arti penting kegiatan-kegiatan penunjang. Sebagai sebuah perhimpunan kita punya visi dan misi kesejarahan yang khas, yang menjadikan program hiburan dan program karitas tidak seharusnya di anak tangga prioritas. Pembenaran utama bahwa program karitas dan kesenangan boleh masuk dalam keranjang prioritas hanyalah bilamana kita sudah menempatkan diri dalam keutamaan visi dan misi kesejarahan perhimpunan yang khas itu sehingga pencakupannya dalam prioritas menjadi bumbu pelengkap yang menunjang pengupayaanya. Di tengah terlupakannya visi dan misi kesejarahan yang khas, pengutamaannya sudah barang tentu sebuah kesalahan prioritas. Seperti mendahulukan dasi sebelum kemeja, kita hanya menjadikan dasi kehilangan arti pentingnya.
Jika PPI bukanlah Perhimpunan Pelajar Indonesia mungkin tidak sepantasnya saya menilai persoalannya seserius demikian. Lebih dari sekedar perkumpulan pelajar Indonesia di luar negeri, PPI mewarisi nama besar Perhimpoenan Indonesia, yang dibentuk oleh mahasiswa-mahasiswa perantauan Indonesia delapan puluhan tahun lampau di mana Hatta dan Syahrir menjadi di antara lokomotifnya. Di bentuk oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia dalam usia yang lebih muda dari kebanyakan kita, sejarah mencatat bahwa Perhimpoenan Indonesia adalah wadah bagi gagasan dan perjuangan untuk gagasan keIndonesian yang progresif. Tidak saja menjadi tempat bersemai bagi gagasan-gagasan progresif tentang makna Indonesia sebagai bangsa, perhimpoenan adalah nama lain dari segenap upaya-upaya progresif bagi perwujudannya. Bukankah dalam dapur Perhimpoenan Indonesia untuk pertama kalinya nama Indonesia --yang sebelumnya hanya bermakna geografis-- diperkenalkan sebagai sebuah gagasan progresif yang mesti diperjuangkan secara politik? Bukankah dalam Perhimpoenan Indonesia pula gagasan-gagasan progresif keIndonesian menemukan kader-kader militan dalam memperjuangkan nama Indonesia sebagai nama lain untuk visi besar Nusantara kemudian? Jangan lupa, Indonesia sesungguhnya sebuah gagasan anak muda dan menjadi yang terdepan dalam menjaga agar ia tetap dalam definisi progresif anak-anak muda itu adalah Perhimpoenan Indonesia, di mana kita warisi nama besarnya.
Sebagai lembaga yang memiliki kaitan semantik dan kesejarahan dengan perhimpoenan, tidak dapat tidak, Perhimpunan Pelajar Indonesia mengemban visi dan misi kesejarahan yang khas untuk senantiasa memastikan bahwa Indonesia sebagai gagasan senantiasa berjalan dalam koridor progresivitas sebagaimana ia dicitakan. Tentu saja ada banyak cara untuk mewujudkan ini. Akan tetapi seberapa pun luasnya cakupan cara-cara yang mungkin menjadi bagian dari upaya perwujudannya, lebih banyak orang akan sependapat dengan saya bahwa mengedepannya acara bersenang-senang dan berkontribusi sedikit-sedikit, atau pendahuluan arti penting persoalan internal, eksibisi kepanitiaan dan definisi responsibilitas sosial dalam jaket sempit program karitas reaksioner, bukan jawaban bagi krusialnya persoalan yang di hadapi Indonesia sebagai bangsa. Saya tentu beresiko dituduh sebegai terlalu romantik dan menyamakan dua kondisi yang berbeda; tapi sungguh saya percaya bahwa dalam kaitannya kita sedang berbicara aktualitas dan kesamaan konteks kesejarahan perhimpoenan yang khas. Seperti periode Hatta, aneka persoalan yang membelit negeri ini sudah sampai pada titik di mana kaum muda di tuntut hadir dalam gagasan-gagasan yang progresif. Adalah benar bahwa kita punya reformasi, tapi bukankah dihadapan aneka korupsi, kemiskinan dan salah urus dan kejumudan Indonesia, reformasi seperti kehilangan taji? Celakanya, pada saat yang sama, semakin banyak elemen kini mengalami moderasi ide-ide progresif reformasi. Dengan mendefinisikan visi-misi PPI ke depan dalam prioritas acara bersenang-senang dan berkontribusi sedikit-sedikit, atau pendahuluan arti penting persoalan internal, eksibisi kepanitiaan dan definisi responsibilitas sosial dalam jaket sempit program karitas reaksioner; sudah barang tentu para kandidat semua semua hanya akan menjadi bagian dari moderasi itu. Bukannya berteriak agar progresivitas itu kembali, dengannya, hanya akan menjadikan perhimpunan bagian dari segenap praktek yang menjauhkannya. Persoalannya, jika dalam komunitas mahasiswa perantauan --di mana kebobrokan keindonesiaan menjadi sebuah beban yang terasa dalam keseharian-- tidak juga membangkitkan perhatian, tekad dan semangat untuk mengawali sebuah gerakan kesadaran yang progresif melainkan masih berkecimpung dalam isu internal, hiburan dan lain-lain perayaan kejumudan, kepada kelompok sosial mana lagi lokomotif bagi kembalinya perjuangan gagasan-gagasan progresif keIndonesiaan hendak digantungkan?
Para kandidat yang terhormat, saya percaya bahwa anda semua adalah calon-calon pemimpin yang tidak hanya muda dari segi usia melainkan senantiasa muda dalam gagasan dan idealismenya. Sebuah kemudaan yang akan mengembalikan PPI dalam progresivitas semangat perhimpoenan-nya semula. Sebuah kemudaan yang melahirkan semangat yang tidak puas pada gagasan-gagasan KeIndonesian yang incremental, konvensional dus alakadar-nya. Sebuah kemudaan yang akan membawa perhimpunan kembali dalam gagasan dan perjuangan atas gagasan-gagasan progresif keIndonesiaan. Sebuah kemudaan yang selain menolak tunduk pada kejumudan cara pandang serta multiplikasi klise gagasan; juga menolak tunduk pada tuntutan agar menjadikan perhimpunan tak lebih dari sekedar tempat bersenang-senang dan berkontribusi kecil-kecilan.
London, 08 Desember 2006
Joko Susanto, Chev-06, LSE Global Politics
You have to login to view this page.