Badar:
1. "Menyikapi isu 'Brain Drain', Menurut Anda, apa saja masalah utamanya?"
2. "Bila nanti sebagai Ketua PPI UK, Strategi dan Program kerja konkret seperti apa yang bisa Anda Anda lakukan untuk berkontribusi terhadap hal ini?"
3. "Sebagai pribadi dan calon Ketua PPI UK, apa saja keunggulan Anda (dibanding calon Ketua PPI UK lainnya) untuk bisa sebagai motor dan teladan untuk menjawab masalah 'Brain Drain' ini?"
Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer
ada byk faktor, sekalian mengundang Andre untuk berdiskusi..
Hi Bung Badar.
pertama, terima kasih untuk pertanyaannya yg bolehlah saya katakan agak berbeda dg pertanyaan2 kandidat lainnya..hehe.. malah saya jd terusik nih kenapa Anda bertanya tt hal ini? sebuah kekhawatiran ataukah ketakutan sebenarnya dg isu (kenapa isu? boleh jadi tak isu lagi karena sudah terjadi jg)?
baiklah, taksah berpanjang2 ya..cz ini jawabnya berlembar2 sendiri..lol
masalah brain drain ini sangat menarik kalau konteksnya dihubungkan dg ekonomi, misal pertumbuhan ekonomi. Merujuk dari paper yg pernah saya baca (Beine et al., 2001- sila cari sendiri..;-)), ada 2 konteks dari brain drain: ex ante 'brain effect' dan ex post 'drain effect' yang keduanya saling mempengaruhi. Brain effect nya bisa jadi karena faktor investasi di bidang pendidikan yg sangat mahal itu, sementara drain effect nya adalah karena pendidikan yg mahal tadi maka seseorang akan memiliki tuntutan lebih, faktor uang misalnya akan menjadi faktor pendorong.
ada banyak fakta berbicara ternyata lulusan luar negeri tak mau kembali ke tanah air. Alasannya bukan karena mereka tidak ingin mengabdikan ilmunya kepada negeri tercinta, tapi melainkan ada faktor2 lain yg kemudian menjadi pertimbangan shg pilihannya lebih kepada untuk stay di LN. Yang pertama, bisa jadi ilmu tsb belum berkembang dg baik di Indonesia shg bisa dikatakan ilmunya tak terpakai dg baik (potensi terabaikan). Kedua, fasilitas tak cukup menunjang. Bayang pun! Mereka yg tadinya terbiasa dg alat yg canggih yg serba otomat dan klik sana sini ketika kembali ke tanah air, harus berlapang dada dg keterbatasan kecanggihan serta prosedur peralatan yg ada. Wajar makanya jika ada shock di antara mereka. Yang kuat memilih bertahan, yg tidak maka memilih mencari alternatif lain. Kembali lagi ke luar negeri, mencari peluang yg lebih baik, misal. Ketiga, waktu yg kurang tepat. mungkin ada saatnya waktu yg berbicara. Semua butuh persiapan dan proses, termasuk mental sepertinya.
Nah, bagi saya kuncinya sebenarnya kalau kita berbicara brain drain adalah pd human capital. Saya setuju dg saudara Angga mengenai konsep brain gain nya (mengajak kembali Sdr Andre untuk berdiskusi). Sayang penjelasannya kurang lengkap. Brain drain bisa diatasi dg menyiapkan setiap individu dg bekal yg banyak, baik dari sisi intelektualitas, kapasitas dan kapabilitas dalam segenap aspek. Penggalian potensi dan juga memberikan kesempatan untuk beraktualisasi dlm segenap ranah kehidupan yg ada. Memberikan sedikit (pun banyak) peran kepada mereka yg memiliki kapasitas keilmuan untuk memegang kendali di sektor2 penting.
Makanya, sejak dini kudu ditanamkan wawasan kecintaan dan kebangsaan kepada para pelajar Indonesia.. jika pun mereka belum (mau) kembali ke tanah air (hingga waktu yg tepat) maka masih ada garuda di dada mereka..
jadi, kegiatan Summer Camp saya bisa menjawab nih..memupuk kecintaan negeri sejak dini..;-)
all d best,
hensi
saya tak ingin berandai2..lbh baik dukung saja saya..
jika..terlalu utopis sepertinya..:D
saya tak ingin berandai-andai bung Badar. visi-misi saya jelas dan program-program saya beserta penjelasannya pun sepertinya sangat jelas. silahkan dibuka kembali filenya..bisa jadi menambah wacana or berpikir untuk mendukung saya?
hensi-bersama menuju perubahan
saya perempuan maka saya unggul!
bicara keunggulan nih. tentu saja saya (merasa) sangat unggul..hehe..bukannya sombong or meminjam bahasa bung Andre 'bernasis ria' namun lebih pada kebanggaan..lah wong saya satu-satunya perempuan yg menjadi kandidat ketua PPI UK. nah ini adl barang langka (harus dilestarikan sepertinya)..
tentu saja saya ingin mendobrak paradigma lama bahwasanya hanya kaum lelaki yg bisa mengaktualisasikan diri dan berperan aktif untuk melakukan perubahan..perempuan pun bisa berbicara dg hati nuraninya yg lembut (fitrah-ly). karena bagaimanapun perempuan adalah aset masa depan nih yg akan menyiapkan generasi2 selanjutnya..;-)
melakukan pemberdayaan potensi kaum perempuan sepertinya adalah salah satu concern yang akan saya bangun ke depannya..
salam hangat,
hensi