Kenapa Ngambek, Bu Menteri?
Ahluwalia
INILAH.COM, Jakarta – Menkeu Sri Mulyani Indrawati membantah dirinya pernah minta mundur. Dia sering memainkan kartu trufnya di hadapan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla. "Dia tak bisa lari dari tanggung jawab," ujar tokoh Malari, Hariman Siregar.
Sri Mulyani menyebut kabar permintaan mundurnya dari kabinet hanyalah isu yang tak jelas sumbernya. Tapi, kabar itu sudah terlanjur menyebar. Dan, bukan sekali ini menteri perempuan itu minta mundur dari jabatannya kepada Presiden SBY.
Dengan pesona dan naluri keperempuanannya, Sri Mulyani bisa berdalih demi integritas dan kredibilitas dirinya, ia lebih baik mundur dari jabatan Menkeu. "Menkeu suka ngambek ke SBY. Itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan dirinya," kata seorang inteligensia ICMI yang mendukung Presiden BJ Habibie pada masanya.
Ngambeknya Sri Mulyani, terakhir, dibaluri isu suspensi saham PT Bumi Resources (BUMI). Dia yang paling getol mendesak otoritas bursa mencabut suspensi itu. Desakan itu, lagi-lagi dengan dalih untuk menjaga integritas dan kredibilitasnya, demi menjaga pasar dan kredibilitas pemerintah.
Mensesneg Hatta Rajasa mengakui rumor mundurnya Sri Mulyani bukan hanya sekali terjadi. Sudah sering isu mundurnya Menkeu ini beredar ke ruang publik.
Di kalangan inteligensia ICMI, sosialis dan nasionalis, bukan rahasia lagi bahwa Sri Mulyani minta dukungan Marsillam Simanjuntak, bekas Sekab era Presiden Gus Dur. Kebetulan, Marsillam punya keterkaitan dengan majalah Tempo. "Jangan lupa, juga ada dukungan The Jakarta Post untuk Menkeu yang menawan itu," kata seorang cendekiawan Muslim.
Memanfaatkan media berbahasa Inggris itu, popularitas Sri Mulyani mencuat di media asing di Asia dan internasional. Popularitas itu terus menguat bagai meteor, seakan-akan dia dewi sekaligus first lady super minister dalam kabinet yang bisa menyelamatkan ekonomi Indonesia dari guncangan keuangan global.
Dia merajuk, merayu dan mendayu ke SBY dengan gaya dan talentanya sebagai ekonom kondang dan ibu yang anggun. Padahal mendiang Prof Sarbini Sumawinata pernah menyatakan Sri Mulyani itu kritis, bisa menulis dan ngomong, tapi belum tentu bisa bekerja untuk rakyat secara bener. "Bukankah banyak ekonom yang merasa pintar justru keblinger," kata inteligensia Muslim Yudi Latif PhD.
Sri Mulyani dan koleganya, kata seorang ekonom UGM, menenteng orang-orang IMF dan Bank Dunia untuk menunjukkan bakat, kuasa dan ke-aku-annya di hadapan SBY-JK. "Dia good guy bagi IMF dan Bank Dunia," kata Revrisond Baswir, dosen FE-UGM. Tapi kini, dengan krisis keuangan global, Sri Mulyani sebagai super minister, mungkin bakal keblinger.
Para inteligensia nasionalis dan Islam melihat, begitu sayangnya Presiden SBY terhadap Menkeu Sri Mulyani, sehingga selalu menolak pengunduran sang menteri. Ada kesan, dengan caranya sendiri, termasuk merajuk dan menyatakan mundur, Sri Mulyani memainkan lakon sambil 'mengerjai' SBY-JK yang jauh di atas usianya.
"Sri Mulyani dilihat para intelijensia Muslim telah 'mewarnai' SBY-JK dengan caranya sendiri. Dia memahami betul psikologi SBY-JK yang lebih senior. Tapi sejarah belumlah berakhir," kata M. Nabil, peneliti PSIK Universitas Paramadina.
Tampaknya, isu ngambek Sri Mulyani akan panjang setelah iklannya sebagai menkeu terbaik dunia. Dia bermanuver ke Presiden SBY, dengan menyatakan akan mengundurkan diri dengan alasan usulan kebijakan ekonomi neolibnya ditolak. Sumber
INILAH.COM mengungkapkan, kadang ia berlasan, justru Wapres JK yang menghambat kebijakannya.
Para inteligensia Muslim menyatakan, kepada wartawan dan diplomat asing, Sri Mulyani menyodorkan berbagai argumentasi klise untuk 'mengelabui' para elite negara dan rakyat. Padahal itu disengaja sebagai upaya penyelamatan Mafia Berkeley agar Sri Mulyani tidak masuk lubang yang telah dia gali sendiri selama empat tahun menjadi Menkeu era SBY-JK.
Target-target Sri Mulyani tidak tercapai dan telah menimbulkan luka menganga pada ekonomi Indonesia. Dia dengan sengaja membiarkan hot money mencapai US$ 24 miliar, dua kali dari tahun 1998.
"Sri Mulyani dan Mafia Berkeley tidak bisa lari dari tanggung jawab. Neoliberalisme telah menghancurkan ekonomi rakyat kita," kata Hariman Siregar, mantan tokoh Malari yang cerdas dan berani.
"Dan Indonesia yang lain adalah mungkin, jalan baru harus dicapai untuk membangun Indonesia yang adil dan sejahtera tanpa neoliberalisme ala IMF dan Bank Dunia," kata Rizal Ramli, mantan menko ekuin yang kritis atas kebijakan Sri Mulyani.
Jalan baru itu, meminjam bahasa Prabowo Subianto, adalah menuju swasembada pangan dan energi. "Ini penting untuk mencapai kemandirian ekonomi, kesejahteraan sosial dan kemandirian budaya yang berkepribadian sejati bangsa kita," kata Prabowo, capres Gerindra dan mantan Pangkostrad. [I4]
--~--~------
---~--~----~------------~-------~--~----~
You received this message because you are subscribed to the Google Groups "komunitas-duri" group.
To post to this group, send email to komunitas-duri@googlegroups.com
To post your queries, send email to komunitas-duri-owner@googlegroups.com
To post your profile, please join FS komunitas.duri@gmail.com
Please update online database via http://spreadsheets.google.com/ccc?key=ppd6OYfKHgdanjvehq5tiPA&inv=ko...
Thank you - Adm Komunitas Duri
-~----------~----~----~----~------~----~------~--~---