Palapa Network

More >>

 

Indonesian Scholars International Convention 2013

Beasiswa Unggulan Dikti

Nampaknya sudah menjadi risiko bagi semua orang yang bercita-cita untuk menjadi dosen untuk sekolah lagi dan sekolah lagi sampai tak ada jenjang sekolah lagi yang tersisa untuk di tempuh. Walaupun tak semudah yang dibayangkan, untuk menjalani kewajiban tersebut ternyata memerlukan banyak usaha dari mulai membulatkan tekad memilih profesi tersebut, memilih sekolah incaran, mendaftar hingga mencari sumber biaya untuk mengongkosi perkuliahan, jalan ini harus ditempuh dengan senang hati dan penuh kesabaran. Dalam tulisan ini, dua orang peraih beasiswa calon dosen DIKTI, Narendra Kurnia dan Nevine Rafa akan berbagi tentang pengalaman mereka hingga dapat pergi dan melanjutkan studinya di Britania Raya ini. Have a nice read!

Narendra Kurnia (MSc in Biomedical Engineering – Imperial College London)

Memutuskan untuk menjadi dosen semenjak tingkat akhir kuliah sarjana di ITB membuat saya memilih fokus untuk melanjutkan sekolah ke tingkat master, dan keukeuh saya ingin kuliah di luar negeri berhubung karena bidang kuliah pilihan saya masih jarang di Indonesia. Singkatnya, sambil menjadi asisten di kampus selama setahun setelah lulus, saya disibukkan dengan mengurus berbagai aplikasi untuk sekolah di luar negeri yang akhirnya alhamdulillah terjawab dengan surat-surat penerimaan dari masing-masing universitas yang saya lamar.

Saya menyadari bahwa diterima oleh universitas luar negeri untuk sekolah disana bukanlah langkah akhir dari proses ini, seperti apa kata supervisor saya ketika s1, “saya yakin kamu bisa di terima Ren, tapi siapa yang mau bayar?, itu yang susah” dan nyatanya memang benar, proses mencari beasiswa adalah proses yang benar-benar memakan energi dan menyerap seluruh usaha jiwa dan raga untuk memerolehnya. Money matter memang selalu bikin pusing, mengingat hanya selangkah lagi kita bisa sekolah lagi di universitas yang didambakan tetapi dengan mudah urusan finansial bisa menghapus semuanya.

Resmilah saya menjadi scholarship hunter. semua kesempatan saya coba, semua lembaga penyedia beasiswa saya kontak dan semua jenis aplikasi saya jabani dan akhirnya banyak pula jawaban penolakan dari berbagai lembaga beasiswa tersebut dengan berbagai alasan dari mulai tidak lolos seleksi hingga tak ada alokasi dana untuk beasiswa bagi mahasiswa Indonesia. Setelah berbulan-bulan berusaha tanpa membuahkan hasil yang diinginkan, akhirnya datanglah info dari seorang teman tentang beasiswa DIKTI bagi calon dosen. Beasiswa baru khusus untuk calon dosen yang belum berstatus PNS di universitas-universitas negeri dan swasta di Indonesia. Walau awalnya saya ragu, karena pada awalnya terkesan beasiswa ini terbuka untuk mahasiswa s3 tetapi setelah disupport penuh oleh bapak supervisor dan baca-baca ulang buku petunjuknya ternyata beasiswa ini juga ditujukan bagi para mahasiswa s2. Tanpa pikir panjang saya mendaftarkan diri.

Walaupun prosesnya agak memakan waktu yang lama namun proses seleksi beasiswa ini sendiri pada dasarnya tidak terlalu jelimet, pertama pengumpulan berkas administrasi k kantor DIKTI, lalu proses wawancara dan setelah itu pengumuman hasil seleksi, pembekalan dan keberangkatan. Alhamdulillah, saat ini saya telah berada di Inggris dan tengah berjuang untuk meraih gelar master, dana dari dikti pun Alhamdulillah mencukupi walau pada awalnya kita harus tetap punya persiapan dana awal sendiri dahulu sehubungan dengan pencairan dana beasiswa yang cair dengan sistem rapel.

Nevine Rafa (MA in Interior Architecture – University of Westminster)

Teaching is my passion. It is more to share my knowledge and see the positive effect of it on people.  Ya, itulah yang mendorong saya untuk berkecimpung di dunia pendidikan sebagai dosen. Namun, tidak bisa dipungkiri, sistem pendidikan di Indonesia yang serba dilematik mendorong saya untuk mencari cara agar dapat melanjutkan sekolah S2. Kenapa? Karena ada peraturan yang menurut saya sangat unik. Peraturan itu adalah: apabila ingin menjadi dosen tetap di PTN, minimal harus S2, lalu bagaimana nasib para S1 yang ingin menjadi dosen dimana jurusan untuk S2 yang diminati tidak ada di Indonesia?

Akhirnya, semenjak lulus dari UI pada tahun 2009, sembari mencari cara untuk melanjutkan pendidikan S2, saya menjadi asisten dosen di kampus. Dimulai dengan mempersiapkan IELTS, mendaftar ke berbagai sekolah dengan jurusan yang diminati (kebetulan jurusan yang saya inginkan lumayan jarang di UK), hingga akhirnya mencari sponsorship. Seperti kata Narendra, diterima di berbagai sekolah di luar negeri mungkin mudah, tapi siapa yg bayar? Bagi saya, dapat bersekolah di Negara orang dengan beasiswa adalah prestige tersendiri, nah itulah yang menjadi wacana bagi saya pada saat itu.

Pertimbangan saya untuk mendaftar ke sekolah-sekolah tersebut ada dua, pertama saya memilih UK karena program pendidikan Master yang hanya 1 tahun dan kedua untuk memperluas kesempatan saya mendapatkan beasiswa, saya mendaftar pada sekolah-sekolah yang juga memberikan beasiswa.  Pada akhir tahun 2010 saya sudah diterima di beberapa sekolah yang saya daftar, namun keinginan kuat untuk melanjutkan S2 dengan beasiswa mendorong saya untuk terus mencari cara mendapatkannya. Dimulai dengan ikut di berbagai milis beasiswa hingga mendaftar berbagai program beasiswa yang diselengarakan oleh universitas yang saya daftari dan juga NGO

Kisah saya hampir sama dengan Narendra, di saat harapan hampir pupus, di awal tahun 2011, sada berita yang kembali menumbuhkan harapan saya yaitu, diselenggarakannya program beasiswa DIKTI untuk calon dosen. Pertanyaan saya selama ini tentang dilematika sistem pendidikan di Indonesia pun terjawab. Perjuangan pun dimulai dengan mempersiapkan semua berkas yang diminta, mendaftar on-line, mengirim berkas langsung ke kantor DIKTI hingga tahap wawancara. Dalam menjalani proses ini saya harus mengorbankan segala waktu saya, disebabkan oleh proses birokrasi di Indonesia yang cukup ribet, yang juga membuat saya harus ekstra sabar dan hati-hati. Pelajaran penting yang saya ambil selama menjalani proses ini adalah, pemberkasan hitam diatas putih adalah hal wajib. Kenapa? Karena di pengumuman pertama, seleksi berkas, nama saya termasuk ke dalam kategori ‘berkas tidak ditemukan’, alhamdulillah saat itu saya menyimpan segala bukti surat masuk ke DIKTI yang diberikan petugas setempat, sehingga hal itu memperkuat keadaan saya bahwa saya sudah mendaftar dengan lengkap. Akhirnya proses demi proses saya jalani dan, alhamdulillah keinginan saya terkabul, saya mendapat beasiswa penuh untuk melanjutkan S2.  Alhamdulillah, sekarang saya berada di London dan ga kerasa sudah hampir waktunya saya kembali ke Indonesia, untuk menjalani kewajiban saya, sebagai kompensasi penerima beasiswa BU DIKTI.

Informasi Beasiswa DIKTI

Bisa dibuka di laman web http://beasiswa.dikti.go.id/bu/

Persyaratan umum (yang paling penting-selengkapnya silakan lihat di web diatas)

Surat kontrak dari Institusi Pengirim (universitas tempat dimana kita jadi asisten)

Surat penerimaan dari universitas tujuan/letter of acceptance

Mengisi formulir isian beasiswa

Komponen beasiswa yang di tanggung

Uang tuition fee, biaya hidup bulanan, settlement fee, biaya buku, biaya tesis, asuransi kesehatan (kecuali UK)  dan ongkos pulang pergi.

Konsekuensi

Menjalani kontrak untuk mengajar di institusi pengirim (atau bisa ditunjuk oleh dikti) selama 2n+1 dengan n adalah lamanya masa studi yang dibiayai oleh DIKTI.

Kontak untuk informasi lebih lanjut

  1. Narendra Kurnia (naren.kurni@gmail.com)
  2. Nevine Rafa (nevine_rk@yahoo.co.id)

Theme by Danetsoft and Danang Probo Sayekti inspired by Maksimer